Posted by: masitah Effendy | December 7, 2008

Berdoa Untuk Kebaikan

 

Banyak yang beranggapan mencari lelaki yang baik di zaman sekarang ini seperti mencari jarum di balik tumpukan jerami, “baik” di sini maksudnya lelaki tersebut baik perilakunya, sikap dan cara bicaranya tetapi yang paling utama adalah jujur dan setia. Bahkan ada yang beranggapan tidak ada lagi lelaki yang baik zaman sekarang ( duh, apa iya ya??)…hummm saya tertarik untuk mengulas hal ini..

Pertama, kenapa ya banyak lelaki dengan gampangnya mendua begitu? Mengapa dia tidak berusaha untuk setia aja, karena setia itu kan wujud syukur, artinya kita mensyukuri apa yang telah kita peroleh, bagaimanapun juga sebaiknya kita itu selalu berusaha untuk menerima apa adanya dari pasangan kita, jangan selalu melihat dari kekurangannya semata.  Ya kalau dengan alasan ingin mencari yang terbaik, sampai kapanpun manusia tidak akan pernah puas, itulah godaannnya, kita diuji gimana kita bisa bertahan dari godaan tersebut dan juga mempertahankan sebuah perjalanan dan pengorbanan yang telah dirintis.

Kedua, saya tidak setuju dengan pendapat bahwa tidak ada lelaki yang baik lagi di zaman sekarang, karena saya mempunyai 3 lelaki terdekat dalam hidup saya, yaitu ayah saya dan 2 abang lelaki saya, dan dari yang saya perhatikan, mereka sangat setia dan sangat baik kepada pasangannya, dan saya beberapa tahun lalu juga pernah menjalani sebuah perjalanan dimana kesetiaan sangat kami junjung tinggi( hmm, baru sekarang menyadari bahwa benar-benar bersyukur pernah ada di masa tersebut)

Ketiga, agama mengatakan” sebaik baik suami adalah yang paling baik dalam memperlakukan isterinya”, maka dari itu, kalau kita mendapati seseorang yang kita rasa cocok untuk kita, kriteria ini harus diutamakan, apakah dia benar-benar baik seterusnya atau cuman didepan saja, alias waktu pdkt aja penting untuk disimak.

Keempat, Sebagian orang menganggap maklum bahwa” kalau dulu baik2, kalau dah deket ya ga usah jaim-jaim lah, tunjukin aja sikap yang asli”..pandangan ini menurut saya salaaaaah besar..mengapa? (bukan ya, bukan juga saya mendukung sikap “jaim” di sini),  tetapi saya tidak setuju bila hal tersebut dijadikan semacam “kewajaran” dalam sebuah proses… karena logika saya, ya kalau misalnya orang tersebut benar-benar baik perilakunya, selama nya dia akan bersikap dengan baik, dimana kebaikannya tidak temporer atau jangka pendek, malah kalau bisa, dia akan terus baik dan memperbaiki kesalahan kesalahannya ( mohon koreksi jika saya salah) tetapi, ya itu, saya termasuk orang yang sampai saat ini tidak bisa menyetujui hal seperti itu, hehe :P

Intinya semua ada di kita, kita yang menentukan kita ini mau jadi orang baik atau tidak, dan senantiasa berdoa kepada Allah, karena Allah lah yang berhak menentukan jodoh kita siapa, intinya kita masih bisa diberikan jodoh yang terbaik diantara yang baik agar kita berusaha dan berdoa untuk kebaikan diri kita.

Kalaupun terjadi penghianatan dan ketidak setiaan, maka ada baiknya kita mengingat ajaran agama yang mengatakan bahwa “doa orang yang dizalimi akan dikabulkan” kalau penghianatan itu kan bagian dari menzalimi orang lain, meliputi perasaan, sikap dan juga hati, ada baiknya kita gunakan kesempatan kita tersebut untuk berdoa (jangan berdoa supaya org yang menzalimi kita tersebut dibalas dengan yang menyakitkan), tetapi ada baiknya doa tersebut untuk kebaikan diri kita sendiri, apapun itu bentuknya, itu akan lebih baik dari pada kita menuntut pada Allah orang tersebut menerima balsan…susah memang, tetapi kalau kita tidak pernah mencoba kita tidak akan pernah taukan kenikmatannya…

nb : kasus penghianatan disini hanya untuk contoh saja, karena konteksnya sedang ngomongin kesetiaan J.mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan…


Leave a response

Your response:

Categories